Minggu, 08 Mei 2011

Ikan Emas dan Udang

Di Sungai Tolido hiduplah seekor ikan emas yang bersahabat dengan seekor udang. Mereka selalu kelihatan bersama kemana pun pergi. Mereka saling membantu.

Akan tetapi, ketika Sungai Tolido banjir Ikan Emas terbawa arus yang begitu deras, sedangkan Udang bersembunyi di rongga bebatuan dipinggir sungai. Udang kelihatan sangat sedih mengetahui temannya terbawa banjir.

Begitu banjir surut Udang langsung berusaha mencari Ikan Emas. Setiap bertemu dengan binatang yang hidup di sungai, Udang selalu bertanya, adakah yang melihat Ikan Emas temannya. Sudah tengah hari Udang mencarinya namun belum berhasil juga. Hati Udang sangat sedih, tak terasa air matanya mengalir. Namun, tiba-tiba terdengar suara Ikan Emas temannya yang memanggil dari kejauhan. Ternyata, Ikan Emas selamat. Bertemulah kedua sahabat itu.

Senin, 02 Mei 2011

Roro Jonggrang

"Pada zaman dahulu di Pengging berdirilah sebuah kerajaan. Sang raja mempunyai putera, yang diberi nama Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso seorang yang gagah dan sakti.

Di zaman yang sama di Prambanan terdapat sebuah kerajaan yang rajanya berjuluk Ratu Boko. Ia mempunyai seorang putri yang bernama Roro Jonggrang. Ratu Boko merupakan seorang raja raksasa yang menakutkan dan besar kekuasaannya.

Suatu ketika antara kerajaan Pengging dan Prambanan terjadi peperangan. Awalnya kerajaan Pengging mengalami kekalahan, banyak tentara yang mati di medan perang.

Namun, setelah Bandung Bondowoso maju ke Medan peperangan keadaan berbalik. Kerajaan Prambanan dapat dikalahkan, bahkan Ratu Boko dapat dibunuh.

Setelah kerajaan Prambanan kalah, Bandung Bondowoso dan bala tentaranya masuk ke Istana kerajaan Prambanan. Disaat itulah Bandung Bondowoso melihat Roro Jonggrang, Puteri Ratu Boko. Bandung Bondowoso jatuh cinta dan ingin memperistri Roro Jonggrang. Namun, keinginannya itu ditolak Roro Jonggrang. Roro Jonggrang tahu kalau Bandung Bondowoso telah membunuh ayahnya.

Setelah dirayu, akhirnya Roro Jonggrang bersedia diperistri Bandung Bondowoso. Namun, dengan syarat Bandung Bondowoso harus dapat membuat seribu candi dan 2 buah sumur yang sangat dalam hanya dalam waktu satu malam. Roro Jonggrang sebenarnya menolak secara halus dengan cara itu. Ia menganggap Bandung Bondowoso tidak akan sanggup memenuhi permintaanya.

Bandung Bondowoso bersedia memenuhi permintaan Roro Jonggrang itu. Dengan kesaktiannya, ia minta bantuan mahkluk halus untuk membuat candi dan sumur. Satu per satu candi yang diminta Roro Jonggrang sudah selesai. Roro Jonggrang heran dan terkejut melihat kejadian itu. Ia kemudian membangunkan gadis-gadis desa Prambanan agar menumbuk padi, sambil memukulkan alu pada lesung sehingga terdengar suara yang riuh.

Mendengar suara riuh itulah ayam jantan pada berkokok sahut-menyahut. Mahkluk halus akhirnya menghentikan pekerjaannya setelah mendengar suara itu. Ia menyangka hari sudah pagi dan matahari hampir terbit.

Setelah pagi betul-betul datang, Roro Jonggrang menghitung candi yang dibuat Bandung Bondowoso. Ternyata, masih kurang satu bangunan candi. Mengetahui tipu muslihat yang telah dilakukan Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso marah. Ia mengutuk Roro Joggrang menjadi aca batu sebagai tambahan sehingga bangunan candi menjadi seribu buah.